Action Center
Screenshot
Invoice
Surat Hutang
WhatsApp Link
New Message
ArifinDev
Memuat pengingat...
Screenshot
Invoice
Surat Hutang
WhatsApp Link
ArifinDev
Memuat pengingat...


Di Balik Jubah Merah: Bagaimana ‘Superman’ Menjadi Alegori Perlawanan Palestina yang Mengejutkan
Superman selama ini adalah ikon budaya Amerika, simbol “kebenaran, keadilan, dan cara Amerika.” Namun, dalam film terbarunya yang digarap oleh James Gunn, pahlawan super paling ikonik ini seolah melepaskan jubah propagandanya dan mengenakan jubah kemanusiaan universal. Bagi banyak penonton, terutama mereka yang bersimpati pada perjuangan Palestina, film ini bukan lagi sekadar tontonan popcorn. Ia adalah sebuah alegori yang tajam, pedih, dan sangat jelas tentang penindasan, penjajahan, dan perlawanan.
Film ini menyajikan sebuah narasi yang terasa begitu akrab. Di satu sisi, ada negara kecil dan tertindas bernama Jarhanpur, yang berjuang mempertahankan tanah dan rakyatnya. Di sisi lain, ada Boravia, negara agresor yang didukung oleh kekuatan teknologi dan finansial dari LexCorp, sebuah korporasi raksasa yang dipimpin oleh Lex Luthor. Sulit untuk tidak melihat cermin dari konflik Israel-Palestina dalam dinamika ini. Jarhanpur adalah Palestina, yang wilayahnya terus menerus dianeksasi, dan rakyatnya menjadi korban tak berdosa.
Sementara Boravia, dengan dukungan tanpa batas dari “kekuatan besar” (LexCorp), adalah representasi dari Israel yang terus melancarkan agresi militernya.
Lex Luthor: Wajah Modern Imperialisme dan Para Pialang Perang
Karakter Lex Luthor dalam film ini digambarkan dengan sangat cerdas. Ia bukan sekadar penjahat gila; ia adalah seorang industrialis miliarder, seorang pialang perang yang mendapat untung dari penderitaan. LexCorp tidak hanya menyediakan senjata canggih untuk Boravia, tetapi juga menjadi dalang di balik layar yang memanipulasi narasi global untuk membenarkan agresi tersebut.
Ini adalah gambaran yang sangat akurat tentang bagaimana konflik di Palestina terus berlangsung. Bukan rahasia lagi bahwa industri pertahanan dan dukungan finansial dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, adalah bahan bakar yang membuat mesin perang Israel terus menyala. Lex Luthor adalah personifikasi dari kekuatan imperialis yang melihat konflik bukan sebagai tragedi kemanusiaan, melainkan sebagai peluang bisnis dan geopolitik.
Pesan Kriptonian: Retorika “Tanah yang Dijanjikan” dan Penolakan Superman
Momen paling menusuk dalam film ini adalah ketika Lex Luthor menyiarkan pesan dari orang tua kandung Superman. Pesan itu mendesaknya untuk “menaklukkan Bumi” dan “memulihkan ras Kryptonian.” Ini adalah sebuah alegori yang luar biasa kuat untuk ideologi Zionis tentang “tanah yang dijanjikan”—sebuah klaim historis yang digunakan untuk membenarkan pengusiran dan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.
Namun, di sinilah letak kekuatan sejati dari film ini. Superman, sang imigran dari planet lain, dengan tegas menolak takdir kolonial tersebut. Ia memilih kemanusiaannya. Ia memilih untuk membela Jarhanpur, kaum yang lemah dan tertindas. Dengan menolak warisan “hak ilahi”-nya untuk menaklukkan, Superman melakukan tindakan paling heroik: ia berpihak pada keadilan, bukan pada garis keturunan. Ia menjadi simbol anti-kolonialisme.
Bagaimana dengan Pandangan Sutradara?
Hingga saat ini, sutradara James Gunn maupun pihak studio belum secara resmi mengonfirmasi bahwa film ini adalah alegori langsung dari konflik Israel-Palestina. Tentu saja tidak. Mengakui hal itu secara terbuka akan menjadi sebuah badai politik yang besar di Hollywood.
Namun, dalam seni, pesan seringkali disampaikan di antara baris-baris dialog dan di balik ledakan CGI. Kesejajaran yang ada terlalu gamblang untuk dianggap sebagai kebetulan. Ini adalah bentuk “subtlety with a sledgehammer”—sebuah kritik yang disampaikan dengan begitu kuat melalui medium fiksi sehingga tidak memerlukan konfirmasi eksplisit. Para pembuat film menggunakan jubah fiksi untuk menyuarakan kebenaran politik yang mungkin terlalu berbahaya untuk diucapkan secara langsung.
Pada akhirnya, “Superman” terbaru telah melampaui genrenya. Ia telah memberikan kita sebuah pahlawan yang relevan untuk zaman kita: seorang pelindung kaum tertindas yang menolak logika penjajahan. Bagi kita yang berdiri bersama Palestina, film ini memberikan secercah harapan sinematik. Bahwa bahkan di jantung budaya pop Amerika, suara perlawanan terhadap ketidakadilan dapat bergema dengan lantang, sekeras dentuman Superman menghancurkan tank-tank para penindas.